Pada hakikatnya manusia melakukan proses belajar semenjak dalam kandungan hingga ke liang lahat,praktisnya selama manusia masih bernyawa akan terus belajar. Belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja,selama pada saat itu kita mendapat sesuatu yang baru untuk diri kita. Begitu pun dengan saya,saya baru kali ini benar-benar merasakan bahwa saya sedang belajar.
Saya anak pertama yang dilahirkan setelah 5 tahun pernikahan orangtua saya,bisa dikatakan waktu yang lama. Untuk itu,bukan sesuatu yang mengherankan jika orangtua-terutama ibu-protektif terhadap saya. Salah satu dampaknya,saya belum diizinkan mengendarai sepeda motor sendiri. Saya hampir tidak pernah bepergian jauh tanpa orangtua,sehingga jika saya diizinkan bepergian sendiri-misalnya naik bus-tentu merupakan sesuatu yang ‘wah’ buat saya. Walaupun bagi sebagian orang,hal seperti naik bus sendiri sama sekali bukan hal istimewa.
Cerita ini bermula kurang lebih seminggu yang lalu,tepatnya 22 Mei 2010. Usai pengumuman kelulusan SMA,praktis saya menjadi pengangguran,hehehe. . .Alhamdulillah,sejak Februari saya telah mendapatkan universitas jalur PMDK atau USMI(Undangan Saring Masuk IPB). Saking nggak ada kerjaan di rumah -selain siklus makan,tidur,mandi,maen gem,baca-saya merasa bisa-bisa mati bosen. So,karena sodara sepupu saya juga sudah diterima di PT (Alhamdulillaah. . .) and sama2 boring abisss,kami merencanakan untuk menginap beberapa malam di rumah kakek-nenek.
Kakek-nenek (orangtua ibu) saya tidak tinggal se-kota (bahkan se-provinsi) dengan kami,mereka tinggal di Jawa Timur (± 2 jam perjalanan dari rumah saya). Eyang kami bertempat tinggal di desa (dalam artian sebenarnya),benar-benar kriteria desa menurut saya walau tidak begitu terpencil. Namun bagi saya dan sepupu saya yang terbiasa hidup di kota dengan segala fasilitas di sekeliling kami membuat acara ‘menginap’ menjadi lebih istimewa dan seru.
Ada yang spesial untuk acara menginap kali ini. Kami berdua memang sering menginap barang 1-2 hari tanpa orangtua,tapi kami selalu di antar jemput. Nah, for the 1st time,kami pulang naik kendaraan umum. Sebab,orangtua kami tidak libur mengajar.
Selama 3 hari 2 malam,banyak hal-hal yang menjadi pelajaran bagi kami. Pertama,saya dapat merasakan penderitaan orang-orang yang tempat tinggalnya terpencil. Bayangkan saja,ingin membeli sepotong sabun saja,saya harus berjalan jauh (hanya ada 1 warung terdekat). Hal ini seketika mengingatkan saya dengan orang-orang yang tinggal di pedalaman Kalimantan dekat perbatasan. Sungguh,perjuangan saya sepersepuluhnya pun belum ada. Tidak heran,kondisi alam yang keras membentuk mereka menjadi orang-orang yang kuat. Semua ini mengisyaratkan saya,bahwa hidup selalu penuh perjuangan,apapun itu demi mencapai keinginan kita. So,jangan mudah menyerah.
Perlu diketahui,di rumah eyang masih terdapat tungku memasak yang menggunakan kayu,meski ada 1 kompor minyak. Rumah eyang saat ini sudah cukup nyaman,orangtua kami bersama-sama menyumbangkan kulkas,rice cooker,mesin cuci dan beberapa alat lain yang memudahkan (mengingat kakek-nenek cukup tua untuk tinggal sendirian). Walau begitu,saya kembali mendapat pelajaran kedua. Tinggal sendirian ternyata begitu melelahkan. Saya belajar mandiri,mengerjakan segala sesuatu sendiri,membagi tugas dengan sepupu. Kondisi fisik nenek saya tidak memungkinkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah,yang ringan sekalipun. Sebenarnya saya tidak ada masalah dengan melakukan pekerjaan rumah seperti halnya menyapu,mencuci piring,dan yang lainnya. Saya pernah mengalami seutuhnya selama 40 hari,selama orangtua saya menyempurnakan rukun iman. Mengerjakan semua itu di rumah sendiri dengan di tempat lain sungguh berbeda. Di rumah eyang saya,semuanya serba sederhana,mencuci piring saja susah dan repot. Kami juga memasak menggunakan kompor minyak yang menurut saya rumit pemakaiannya. Jadi teman,kita tidak selamanya dalam buaian ibu,ada waktunya ketika kita harus sendiri,dengan keadaan yang tidak kita inginkan. Untuk itu kita perlu bersiap,berusaha mengerjakan segala sesuatunya sendiri.
Teman,karena keterbatasa waktu,ceritanya dilanjutkan kapan2 ya?hehe. . .
Coming soon,The Unforgottable Experience-part 2

Selasa, Juni 01, 2010
Jumat, April 23, 2010
DE LIEFDE 'memoar sekar prembajoen'
Tak mudah menjalani pembuangan di sebuah negeri asing,meskipun negeri itu adalah negeri Belanda! Tempat ia pernah menyemai cita-cita menggali ilmu pengetahuan setinggi-tingginya. Sekar Prembajoen tertatih-tatih menyusuri kehidupan yang jauh dari dugaannya. Termasuk harus berurusan dengan Roesmini van de Brand,seorang perempuan indo yang dijual ‘ayahnya’ di rumah pelacuran dan menjalani affair dengan seorang anggota parlemen .
Tak mudah untuk mempertahankan semangat juang,di saat badai menerpa dari segala penjuru, Membuat idealisme seperti barang tertawaan. Seperti yang dialami Everdine Kareen Spinoza,pengacara yang memperjuangkan nasib kliennya,Rinnah van de Brand yang ingin mendapatkan hak pengasuhan anaknya,meski ia hanya seorang Nyai Belanda.
Sekar dan Everdine,di tengah perjuangannya melawan sistem hukum yang tak berpihak pada kaum inlander,harus pula memperjuangkan arti sebuah kesetiaan. Karena,cinta sejati memang begitu sulit diejawantahkan. Apakah Sekar,Everdine,dan yang lain berhasil meramu sebuah de liefde,cinta yang menginspirasi perjuangan mereka?
DE LIEFDE memoar sekar prembajoen adalah sebuah sekuel dari tetralogi DE WINST -salah satu karya terbaik Afifah Afra- yang mengisahkan seorang wanita pribumi,Sekar Prembajoen di masa penjajahan Belanda dengan mempertahankan segala idealisme yang dimilikinya. Kisahnya dikemas dalam sebuah cerita tempo dulu yang mengharu biru,romantis,dan sarat makna. Jika De Winst mampu memukau pembaca,tentu tak kalah menarik dengan sekuelnya,selamat membaca!
Senin, April 19, 2010
ALICE IN WONDERLAND new version
Alice In Wonderland memang bukan cerita fantasi yang baru. Versi bukunya ditulis oleh Lewis Carrol dan seri kartunnya telah lama diterbitkan oleh produsen film ternama Walt Disney Pictures. Namun,cerita ini kembali difilmkan dengan pemeran yang nyata dengan andil salah satu aktor besar Johnny Deep. Tim Burton berhasil menggarap film fantasi ini dengan warna berbeda dari versi terdahulu.
Alice in Wonderland versi Tim Burton menceritakan tentang perjalanan Alice Kingsley (Mia Wasikowska) pada usia remajanya 19 tahun. Ia dilamar oleh seorang bangsawan bernama Hamish (Leo Bill),tetapi Alice mangambil langkah seribu dari tempat itu dan secara tak sadar dirinya terjatuh ke dalam lubang ketika mengejar White Rabbit.
Alice tiba di wonderland alias negeri dongeng. tempat dimana ia pernah datang beberapa tahun silam meski tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Alice mengalami petualangan unik dan berteman dengan banyak teman baru sekaligus bersiap menghadapi kekuasaan jahat dari Red Queen.
petualangan Alice In Wonderland kita akan melihat flora dan fauna yang tidak pernah kita bayangkan. Jamur yang besar dan bunga yang bisa berbicara layaknya manusia. Kalau anda sudah puas dengan penggambaran Wonderland, bersiap-siaplah untuk menahan jantung anda ketika unsur tegang di film ini ditawarkan oleh Tim ketika Alice melawan naga The Jabberwock. Namun Tim juga tidak lupa menyelipkan sisipan humor yang bisa membuat kita tertawa berkat penampilan Mad Hatter (Johnny Depp) yang tidak diragukan lagi kemampuannya. Namun akting Mia Wasikowska d film perdananya terbilang sukses dalam memerankan Alice.
Film salah satu kreasi besar Tim Burton yang kabarnya dirilis Maret 2010 tak boleh dilewatkan,namun belum ada kepastian untuk ditayangkan di bioskop.
MY NAME IS KHAN
Film My Name Is khan merupakan sebuah film Bollywood yang dibintangi salah satu aktor besar India yaitu Shah Rukh Khan, film ini merupakan karya besar sutradara Karan Johar dan diproduksi oleh Dharma Productions. Dalam film yang dirilis tanggal 12 Februari 2010 kemarin ini diperankan oleh sederet aktor dan aktris hindi yang mungkin sudah tak asing bagi kita-khususnya bollywood mania- mereka adalah Shahrukh Khan, Kajol, Shabana Azmi, Sonya Jehan, Jimmy Shergill.
Saya sangat terkesan dengan cerita film ini,padahal saya bukan termasuk Bollywood mania lho! Pertamanya,pas denger opening song-nya saya udah illfeel duluan,habis india banget! Tapi,ketika cerita beralur campuran ini mulai,saya bener-bener terpukau.Wow,that's great movie!
Film ini menceritakan perjuangan seorang India penderita sindrom Aspeger (takut menghadapi tempat dan suasana baru) dengan gejala mirip autisme di Amerika. Tokoh utamanya bernama Rizwan Khan (dimainkan oleh Shah Rukh Khan) ini melalui keterbatasan dan kepolosannya berhasil menunjukkan kepada dunia terutama warga Amerika,bahwa di antara manusia tidak ada perbedaan apapun kecuali sifat baik dan jahat. Rizwan Khan menunjukkan bahwa agama tidak dapat dipersalahkan untuk kejadian meledaknya WTC. Rizwan Khan yang menikah dengan janda beranak satu,Mandira harus berkorban hanya karena dia muslim. Putra Mandira,Sameer meninggal akibat penyiksaan anak-anak Amerika karena ayahnya beragama Islam.
Sejak saat itu,Mandira menyalahkan Rizwan atas segala kejadian ini dan memintanya untuk mengatakan kepada presiden bahwa dia bukan teroris dan Sameer bukan anak seorang teroris. Rizwan yang telah menanamkan ajaran ibunya bahwa dia tidak boleh mengingkari janji pun pergi meninggalkan Mandira untuk memenuhi permintaan istrinya,
Ketika arak-arakan presiden diadakan,di tengah kerumunan orang,Rizwan berkata,"My name is Khan,and i am not a terrorist". Kata-kata itu malah membuat Rizwan ditangkap dan dijebloskan ke penjara dengan tuduhan teroris. Dan saat itulah,para muslim di Amerika bersatu,membela Rizwan. Bahkan umat beragama yang lain pun turut membantu,sebagai balasan kepada Rizwan yang selalu berbaik hati kepada mereka. Di sini dapat terlihat,bahwa Rizwan mengajarkan kepada mereka tentang kebersamaan dan perdamaian. Suatu ketika,seorng uztadz India mengatakan kepada muridnya untuk memusuhi umat Hindu demi mendapat ridha Allah,Rizwan yang mendengarkannya berkata bahwa jalan Allah adalah jalan kedamaian,bukan melalui kekerasan.
Film ini memiliki filosofi yang luar biasa mengenai umat beragama dan dengan harapan mengubah pandangan warga Amerika terhadap umat Islam. Saya merokemendasikan film ini untuk dikonsumsi
Saya sangat terkesan dengan cerita film ini,padahal saya bukan termasuk Bollywood mania lho! Pertamanya,pas denger opening song-nya saya udah illfeel duluan,habis india banget! Tapi,ketika cerita beralur campuran ini mulai,saya bener-bener terpukau.Wow,that's great movie!
Film ini menceritakan perjuangan seorang India penderita sindrom Aspeger (takut menghadapi tempat dan suasana baru) dengan gejala mirip autisme di Amerika. Tokoh utamanya bernama Rizwan Khan (dimainkan oleh Shah Rukh Khan) ini melalui keterbatasan dan kepolosannya berhasil menunjukkan kepada dunia terutama warga Amerika,bahwa di antara manusia tidak ada perbedaan apapun kecuali sifat baik dan jahat. Rizwan Khan menunjukkan bahwa agama tidak dapat dipersalahkan untuk kejadian meledaknya WTC. Rizwan Khan yang menikah dengan janda beranak satu,Mandira harus berkorban hanya karena dia muslim. Putra Mandira,Sameer meninggal akibat penyiksaan anak-anak Amerika karena ayahnya beragama Islam.
Sejak saat itu,Mandira menyalahkan Rizwan atas segala kejadian ini dan memintanya untuk mengatakan kepada presiden bahwa dia bukan teroris dan Sameer bukan anak seorang teroris. Rizwan yang telah menanamkan ajaran ibunya bahwa dia tidak boleh mengingkari janji pun pergi meninggalkan Mandira untuk memenuhi permintaan istrinya,
Ketika arak-arakan presiden diadakan,di tengah kerumunan orang,Rizwan berkata,"My name is Khan,and i am not a terrorist". Kata-kata itu malah membuat Rizwan ditangkap dan dijebloskan ke penjara dengan tuduhan teroris. Dan saat itulah,para muslim di Amerika bersatu,membela Rizwan. Bahkan umat beragama yang lain pun turut membantu,sebagai balasan kepada Rizwan yang selalu berbaik hati kepada mereka. Di sini dapat terlihat,bahwa Rizwan mengajarkan kepada mereka tentang kebersamaan dan perdamaian. Suatu ketika,seorng uztadz India mengatakan kepada muridnya untuk memusuhi umat Hindu demi mendapat ridha Allah,Rizwan yang mendengarkannya berkata bahwa jalan Allah adalah jalan kedamaian,bukan melalui kekerasan.
Film ini memiliki filosofi yang luar biasa mengenai umat beragama dan dengan harapan mengubah pandangan warga Amerika terhadap umat Islam. Saya merokemendasikan film ini untuk dikonsumsi
Rabu, Oktober 21, 2009
NASIONALISME DAN PEMUDA INDONESIA
Secara etimologis, kata nation berakar dari kata Bahasa Latin natio. Kata natio sendiri memiliki akar kata nasci, yang dalam penggunaan klasiknya cendrung memiliki makna negatif (peyoratif). Ini karena kata nasci digunakan masyarakat Romawi Kuno untuk menyebut ras, suku, atau keturunan dari orang yang dianggap kasar atau yang tidak tahu adat menurut standar atau patokan moralitas Romawi. Padanan dengan bahasa Indonesia sekarang adalah tidak beradab, kampungan, kedaerahan, dan sejenisnya. Kata natio dari Bahasa Latin ini kemudian diadopsi oleh bahasa-bahasa turunan Latin seperti Perancis yang menerjemahkannya sebagai nation, yang artinya bangsa atau tanah air. Juga Bahasa Italia yang memakai kata nascere yang artinya “tanah kelahiran”. Bahasa Inggris pun menggunakan kata nation untuk menyebut “sekelompok orang yang dikenal atau diidentifikasi sebagai entitas berdasarkan aspek sejarah, bahasa, atau etnis yang dimiliki oleh mereka” (The Grolier International Dictionary: 1992).
Pengertian ini jelas mengalami perubahan karena kata nasion dan nasionalisme diadopsi dan dipakai secara positif untuk menggambarkan semangat kebangsaan suatu kelompok masyarakat tertentu. Di bawah pengaruh semangat pencerahan (enlightenment), kata nasionalisme tidak lagi bermakna negatif atau peyoratif seperti digunakan dalam masyarakat Romawi Kuno. Sejak abad pencerahan (zaman pencerahan atau zaman Fajar Budi berlangsung selama abad 17–18), kata ini mulai dipakai secara positif untuk menunjukkan kesatuan kultural dan kedaulatan politik dari suatu bangsa.
“Kesatuan kultural” dan “kedaulatan politik” merupakan dua kata kunci yang penting untuk memahami nasionalisme. Nasionalisme dalam pengertian kedaulatan kultural akan berbicara mengenai semangat kebangsaan yang timbul dalam diri sekelompok suku atau masyarakat karena mereka memiliki kesamaan kultur. Di sini kita berbicara mengenai nasionalisme bangsa Jerman atau bangsa Korea atau bangsa-bangsa di Eropa Tengah dan Timur yang memiliki kesamaan kultur. Semangat kebang-saan atas dasar kesamaan kultur ini telah terbentuk sebelum terbentuknya suatu negara bangsa.
Mengacu pada pengertian ini, Indonesia jelas tidak menganut paham nasionalisme dalam artian kesamaan kultur. Kita memiliki pluralitas budaya dan etnis yang memustahilkan kita berbicara mengenai semangat kebangsaan atas dasar persamaan kultur. Masih dalam konteks pengertian ini, sebenar-nya wajar saja jika orang Aceh berbicara mengenai nasionalisme Aceh, demikian pula orang Papua, Maluku, Jawa, Batak, Bugis, Makassar, Bali, Flores, dan sebagainya. Nasionalisme yang mereka maksudkan tentu saja adalah semangat kebangsaan atas dasar persamaan kultur ini, dan semangat ini tidak bisa dikatakan sebagai salah atau benar.
Nasionalisme identik dengan pemuda, sebab mereka-merekalah pemilik semangat masionalisme yang membara. Mari kita tengok peristiwa-peristiwa besar di Indonesia yang dipicu oleh semangat nasionalisme pemuda kita.
1928 : Saat pemuda bersatu, semangat persatuan diikrarkan
Tentunya kita tak lupa dengan peristiwa Sumpah Pemuda yang diikrarkan pertama kali sebagai hasil dari Kongres Pemuda II pada tanggal 28 Oktober 1928. Kongres ini diikuti oleh para pemuda dari berbagai organisasi daerah di Indonesia. Merekalah yang mencurahkan pikiran dan tenaga untuk mewujudkan persatuan. Mengesampingkan perbedaan suku, warna kulit, dan agama, mereka menggelar pertemuan-pertemuan yang merisaukan penjajah Belanda. Kemerdekaan adalah dambaan mereka.
Anak-anak muda itu menuliskan bagiannya dalam sejarah negeri kita : sebagai pemimpin bangsa, penyair, musisi, atau orang biasa saja. Ada pula yang nasibnya berakhir tragis, tewas di ujung bedil tentara Indonesia, yang kemerdekaannya turut ia perjuangkan.
1945 : Saat pemuda bersatu, kemerdekaan segera terjadi
Proklamasi pun dikumandangkan di seluruh penjuru nusantara. Pagi itu,17 Agustus 1945 Ir.Soekarno membacakan naskah proklamasi. Di dalam naskah itu dinyatakan bahwa Indonesia memerdekakan bumi mereka dari penjajah. Walau perjuangan belum benar-benar berakhir dan kemerdekaan belum benar-benar di genggaman tangan, setidaknya ini merupakan langkah awal. Para pemudalah yang sebelumnya mendesak Ir.Soekarno dan Muh.Hatta untuk segera menyelesaikan naskah kemerdekaan itu dan memproklamirkannya. Merekalah yang mengasingkan dua tokoh besar agar tidak ada yang mengganggu dua tokoh itu dalam menyelesaikan rancangan kemerdekaan bumi nusantara.
1966 : Saat pemuda bersatu, kepentingan rakyat dibela
Memasuki akhir tahun 1965, keadaan negara indonesia sudah sangat parah, baik dari segi ekonomi maupun politik. Harga barang naik sangat tinggi terutama BBM. Oleh karena itu para mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) menyerukan tiga tuntutan kepada pemerintah yang berisi :
1. Bubarkan PKI
2. Perombakan kabinet
3. Turunkan harga
Tiga tuntutan itu dikenal dengan sebutan Tritura (tiga tuntutan rakyat).
1998 : Saat pemuda bersatu, reformasi ditegakkan
Soeharto yang telah puluhan tahun memimpin rezim orde baru dan menjadi bapak pembangunan juga sangat berjasa. Tapi dengan adanya tragedi Tanjung Priok, Daerah Operasi Militer di Aceh, hilangnya para aktivis, ataupun tragedi trisakti dan semanggi seakan semakin mengukuhkan betapa mutlaknya kekuatan dan kekuasaan orde baru. Ketika itu KKN (yang juga masih terjadi saat ini) menjadi semacam hal yang ditolerir dalam melanggengkan dan melaksanakan kekuasaan. Ekonomi berbasis utang juga menjadi biang ketidakpercayaan.
Di negara kita, kebohongan telah menjadi tak hanya kategori moral tapi pilar negara. Keadaan menyedihkan itu telah menarik rakyat dan mahasiswa untuk turun ke jalan dan menyarakan kebenaran.
Para pejuang 1998 telah menghasilkan kebebasan dan perubahan bertahap. Pers yang bebas, ruang kritik yang lebar, amandemen UUD 1945,lahirnya lembaga-lembaga negara telah menjadi salah satu perwujudan dari reformasi.
Dapat dilihat begitu kentalnya peran pemuda dengan semangat nasionalisme mereka membuat perubahan-perunbahan besar. Terbukti bahwa nasionalisme berperan penting dalam membentuk perubahan demi kemajuan bangsa. Apalagi untuk masa sekarang ini, tanpa nasionalisme bangsa Indonesia akan dengan mudah diprovokasi dan dapat mengakibatkan terpecah belahnya bangsa. Nasionalisme berperan penting dalam menyatukan bangsa Indonesia. Ketika beragam suku, budaya, dan agama di Indonesia merasa sebangsa dan setanah air yang tercipta adalah kedamaian. Mereka berkolaborasi demi membuat bangga tanah air. Atlet-atlet badminton Indonesia dapat merebut medali di kancah kompetisi Internasional. Mereka berjuang untuk Nusantara, mereka menangis bahagia karena dapat menjunjung tinggi negara tercinta, meskipun mereka berbeda suku, budaya, dan agama. Hal tersebut tak jadi soal, karena mereka berjiwa nasionalisme. Meski berbeda tetapi mereka sama, sama-sama bangsa Indonesia, dan sama-sama berjuang untuk negara.
Bagaimana cara menumbuhkembangkan semangat nasionalisme? Yang pertama tentu dari diri kita masing-masing. Lalu,pendidikanlah yang selanjutnya berperan penting dalam menumbuhkan jiwa nasionalisme pada kaum pemuda khususnya pelajar. Sejauh mana pendidikan menumbuhkan kesadaran akan sebangsa dan setanah air. Sejauh mana pendidikan menunjukkan bahwa nasionalsme berarti senasib, dan senasib berarti bahwa kita harus merasakan yang saudara kita rasakan,bahwa saudara kita harus mendapatkan yang seharusnya menjadi hak mereka. Gerakan separatisme bukan mutlak kesalahan mereka yang melakukan. Kita harus melihat hal-hal apa yang memicu mereka untuk memberontak. Bisa jadi karena mereka tidak mendapatkan keadilan serta diabaikan. Jiwa nasionalisme juga dapat dikembangkan melalui organisasi-organisasi pemuda yang positif.
Sumber info : www.google.com, TEMPO edisi khusus 80 tahun
Sumpah Pemuda
Kamis, Juni 11, 2009
YANG TERSISA
Clara tampak asyik berkutat dengan i-phone hitam baru miliknya,sibuk membalas testi dari berbagai milis yang sering dikunjunginya. Cewek sipit itu tak terusik dengan riuh rendah teman-teman mereka yang sedang menunggu hasil pengumuman UAN. Sepertinya,ia yakin bakal lulus UAN.
Tiba-tiba saja sepasang tangan menutup mata Clara dari belakang. Mendapat serangan mendadak tersebut,Clara segera memekik manja. Ya,ia sudah hafal tekstur tangan itu,pasti Randi. “Hentikaan,lagi seru nih!” Clara merengek manja. “Oke! Tapii...ada syaratnya!” goda Randi,merasa ditanggapi. “Apaan?? Cepetan deh Ran,keburu offline semua!!” Clara mulai merajuk. “Ehmm...oke,aku traktir nasi goreng kesukaanmu deh!” tambah Clara membujuk. “Yaah,kamu kebiasaan nyuap deh! Ntar jadi pejabat suka nyuap lho. Nyuapin nasi,haha. . .!” gelak Randi,tangannya pun ia singkirkan dari wajah ayu Clara.
“Clar...” panggil Randi lirih. “Iya,kenapa Ran?” jawab Clara tanpa mengalihkan pandangan dari Blackberry-nya. “Clara-ku,perhatiin aku dulu dong,please...” kata Randi lembut. Clara pun segera menghentikan gerakan jarinya yang lincah menekan keypad,ia tahu Randi ingin membicarakan sesuatu. Clara pun memasukkan HP-nya ke saku,dan menatap Randi lekat-lekat. “Aku...aku diterima di sini,Clar. PMDK yang kuajukan itu.” Matanya sayu,menekuri lantai di bawahnya.
“Jadi,kamu nggak bisa nemenin aku di Bandung? Kita berpisah? Tapi,kamu nggak bermaksud untuk...”
“Nggak Clar! Aku tetep sayang kamu,walau kita berjauhan.”
“Apa kita bisa?”
“Kau ragu,Clara.”
“Aku cuma nggak ingin memendam harapan. Aku takut sakit!” bulir air mata mulai membasahi pipi halusnya. “Sudahlah,kita coba dulu,ya?” sahut Randi menenangkan,mengusap air mata Clara. Clara hanya mengangguk pelan.
***
Bandung
“Halo,Clara!” Evan melemparkan senyum andalannya. Clara yang tengah mengetik di notebook-nya menoleh,mencari sumber suara kemudian balas tersenyum. ”Lagi sibuk nih? Sorry kalo gue ganggu.” Lagi-lagi Evan mencari perhatian Clara. “Nggak kok,santai aja kali” sambut Clara ramah. Merasa mendapat umpan balik,Evan segera melanjutkan percakapan. “Boleh gue duduk?” kata Evan sambil melirik tas Clara yang diletakkan di satu-satunya kursi yang tersisa. “Silakan. Oh,maaf...maaf!” segera Clara menyingkirkan tasnya.
“Boleh kenalan kan?” tanya Evan basa-basi. “Lho,kan sudah kenal. Buktinya kamu tahu namaku.” Clara tetap memelototi layar notebook-nya. “Yah,maksud gue,kenal lebih deket gitu.” Evan agak dongkol dengan kepolosan Clara. “Oh. . .” sahut Clara pendek. “Lho,kok cuma oh? Takut dimarahi pacar kamu ya?” Evan terus memancing.
Tanpa sadar,Clara termakan pancingan Evan. Clara menoleh dan mengernyit,kemudian mengangkat bahu. “Jadi,loe udah punya pacar belum?” Evan semakin agresif. “Yaa...ada sih,” jawab Clara tanpa memandang Evan. “Lho,kok loe kaya gimana gitu?” Evan makin penasaran. “Dia..nggak kuliah di sini. Dia di Yogya.” Clara menunduk sedih,teringat Randi dan segala kenangan mereka.
***
Yogyakarta
Randi termenung menatap suasana di balik jendela. Hujan,sedang apa kamu Clar? Randi seperti kehilangan semangatnya. Bagai lilin tanpa nyala api,putih...dingin. Ah,andai saja aku punya HP. Tak akan begini jadinya. Aku rindu kamu,Clara. Mahasiswa andalan universitas itu pun ternyata bisa tak berdaya karena cinta.
“Lho,kenapa Ran? Sakit?” sapa Mbak Asih tiba-tiba. “Eh,ini Mbak...lagi nikmatin hujan.” Randi tersentak dari lamunannya. “Nikmatin hujan kok ngelamun gitu!Piye tho?” Mbak Asih heran. “Jujur saja,kamu sedang ada masalah kan?” kata Mbak Asih perhatian. “Hmmm,iya Mbak.” Randi tampak malas bercerita. “Ya udah,kenapa nggak cerita aja apa masalahnya?” Randi hanya garuk-garuk kepala. “Begini,Mbak. Sudah sebulan aku nggak hubungi Clara. Aku pingin tahu kabarnya. Tapi,sampai sekarang aku belum mampu beli HP.” Mbak Asih tampak mengerti. “Oh,cuman gitu tho ternyata. Kenapa ndak bilang?” Randi menatap Mbak Asih,ingin tahu. “Kebetulan,aku mau beli HP baru. Gimana kalau HP-ku yang lama kujual padamu?”
“Tapi,Mbak...berapa harganya?” Randi sedikit khawatir ia takkan mampu membayar. “Tenang aja,untuk kamu kujual Rp 650.000,00. Bagaimana? Bisa dicicil kok,nggak usah khawatir!” Mbak Asih seperti bisa membaca pikiran Randi. “Bener nih Mbak? Tapi dua bulan ya?” mata sayu Randi kembali berbinar. “Lha ya bener lah! Tapi aku tahan dulu sampai lunas ya? Aku belum bisa beli lagi sebelum kamu lunasi.” Senyum Mbak Asih. “Iya Mbak! Aku lunasi secepatnya!” Randi tersenyum gembira.
***
Bandung
“Hei,gimana kabar pacar loe itu,Ra?” tanya Evan sambil menyedot jus jambu. “Sudah dua bulan lebih,dia nggak calling aku. Yah,mungkin masih sibuk ngerjain tugas.” Clara mengangkat bahu,seolah tak peduli. Akhir-akhir ini sikap Clara memang begitu. Jika ditanya mengenai kabar Randi,selalu saja ia berubah tak peduli. Sikap yang bertolak belakang dengan hatinya. Hampir tiap malam,Clara selalu menangis. Tak bisa menahan rindu.
“Mungkin dia udah dapat pengganti loe.” Kata Evan santai. Mendengar perkataan Evan,mata Clara membeliak kaget. “Nggak kali,Van. Aku tahu dia sibuk ngerjain tugas,dia pasti mahasiswa teladan di sana.” sahut Clara menenangkan hatinya. “Yee,loe lugu banget deh! Sayang banget,cewek secantik loe...” Kembali Clara tersentak. “Maksud kamu apa sih,Van?” Clara mulai melihat gelagat aneh.
“Yaah...masa sih,cewek cantik kaya loe nungguin yang nggak pasti. Percuma,palingan dia di sana juga lagi nongkrong bareng cewek!” Evan terlihat cuek. Mendengar perkataan Evan,mata Clara menyipit. “Nggak!!” Clara berlari meninggalkan Evan di Cafe,tempat mereka bersantai.
***
Yogyakarta
Yogya,i’m coming!! Clara menghirup udara Yogya yang penuh polusi dengan semangat,ia pulang. Setelah kejadian di Cafe itu,Clara memutuskan untuk pulang. Lagipula,ia juga sudah lama tak menengok rumah. Clara berjalan gontai,menengok kanan-kiri. Siapa tahu,sopir utusan papanya sudah menunggu.
Keesokan paginya,Clara memutuskan untuk berjalan-jalan. Sebelum menemui Randi,Clara ingin menikmati kepulangannya. Rumah sepi,seperti biasa mama dan papanya sibuk mengurus perusahaan mereka. Adiknya,tentu saja sedang berkutat dengan bola basket. Sarapan pun cuma ala kadarnya,Clara tak berselera. Ia memutuskan untuk mencari sarapan di Bundaran UGM. Pagi-pagi seperti ini,di sana ramai dengan berbagai masakan khas kota kelahirannya. Clara segera memacu sedan putihnya.
***
Sepagi itu,Randi dan Mbak Asih sudah menikmati bubur ayam di Bundaran UGM. Tempat itu memang terkenal sebagai ajang wisata kuliner bagi masyarakat setempat. Menunya pun bermacam-macam,tak hanya masakan khas Jawa. Randi sengaja mentraktir Mbak Asih bubur ayam. Ia sedang senang,kini HP Mbak Asih sudah di tangannya,sebentar lagi ia akan tahu kabar Clara. Ya,Randi berhasil melunasi cicilannya. Karena itu,ia mentraktir Mbak Asih sebagai ucapan terima kasih.
Sedan putih Clara sudah terparkir di antara banyak kendaraan masyarakat Yogya yang sedang menikmati kuliner di Bundaran UGM. Clara bergegas keluar dari mobil,berkeliling melihat-lihat makanan yang menggugah selera. Namun,ketertarikannya pada berbagai macam makanan hilang dengan cepat. Matanya memandang seseorang berkaus biru,sedang menikmati bubur ayam. Seorang cewek duduk di dekatnya. Randi-kah itu? Dengan rasa penasaran Clara menghampiri tempat itu. Setelah sampai,Clara masih terpekur,menatap tanpa kedip sosok yang kini membelakanginya.
Clara tak perlu menunggu lama,sosok itu membalikkan badannya. Sekarang,mereka saling berhadapan. “Clara!Clara,kapan kamu pulang?” ternyata Randi,menyongsongnya dengan senyum sumringah. Clara pun membalas senyumnya,”Randi! Aku ke sini sengaja ngasih surprise buat kamu! Aku...” perhatian Clara beralih pada cewek di belakang Randi,yang bersamanya sejak tadi. Entah apa yang merasukinya,tiba-tiba Clara teringat perkataan Evan. palingan dia di sana juga lagi nongkrong bareng cewek...masa sih cewek kaya loe nungguin yang nggak pasti? Sayang banget...sayang banget...perkataan Evan terngiang-ngiang di telinganya. Raut muka Clara berubah seketika. “Ran...Ran...dia siapa? Kamu...kamu nggak...” Clara terisak. Randi bingung menghadapi perubahan Clara,”Nggak apa,Clar? Dia Mbak Asih,aku belum cerita ke kamu ya?” Clara menggeleng,isaknya semakin keras. “Ran,kenapa? Kamu nggak pernah kasih kabar,sekarang...apa?” Randi juga menggeleng. “Clar,dengerin aku dulu. Kamu pasti salah paham. Dia nggak seperti yang kamu pikir. Dia...”
“Dia...dia apa,Ran! Aku sengaja pulang untukmu,tapi kamu...ah,sudahlah!” Clara memotong perkataan Randi,ia bergegas menuju sedannya. “Clara...Clara!!” Randi mengejar,tapi Clara terlalu cepat. Clara segera tancap gas,jendela pengemudi terbuka. Sambil mengemudi,Clara membuang seluruh kenangan mereka. Clara mengemudi dengan kecepatan tinggi,ia tak dapat melihat dengan jelas. Matanya kabur oleh air mata. Sepuluh detik kemudian,Duaarrr!!!
Sedangkan di tempat yang ditinggalkan Clara,Randi berdiri terpaku. Wajahnya pucat. Randi memungut sesuatu yang terjatuh di kakinya,sesuatu yang terhembus angin bersama dengan hilangnya mobil Clara. Sesuatu itu,foto mereka berdua. Randi memandangi foto itu,lama. Dia kakak sepupuku,Clar. Mbak Asih kakak sepupuku...
Tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi pada Clara,Randi mengantongi foto mereka. Tanpa mengetahui,bahwa hanya itu yang tersisa dari kenangan manis mereka.
My room, 23.28 p.m. before midnight
09062008
Clara tampak asyik berkutat dengan i-phone hitam baru miliknya,sibuk membalas testi dari berbagai milis yang sering dikunjunginya. Cewek sipit itu tak terusik dengan riuh rendah teman-teman mereka yang sedang menunggu hasil pengumuman UAN. Sepertinya,ia yakin bakal lulus UAN.
Tiba-tiba saja sepasang tangan menutup mata Clara dari belakang. Mendapat serangan mendadak tersebut,Clara segera memekik manja. Ya,ia sudah hafal tekstur tangan itu,pasti Randi. “Hentikaan,lagi seru nih!” Clara merengek manja. “Oke! Tapii...ada syaratnya!” goda Randi,merasa ditanggapi. “Apaan?? Cepetan deh Ran,keburu offline semua!!” Clara mulai merajuk. “Ehmm...oke,aku traktir nasi goreng kesukaanmu deh!” tambah Clara membujuk. “Yaah,kamu kebiasaan nyuap deh! Ntar jadi pejabat suka nyuap lho. Nyuapin nasi,haha. . .!” gelak Randi,tangannya pun ia singkirkan dari wajah ayu Clara.
“Clar...” panggil Randi lirih. “Iya,kenapa Ran?” jawab Clara tanpa mengalihkan pandangan dari Blackberry-nya. “Clara-ku,perhatiin aku dulu dong,please...” kata Randi lembut. Clara pun segera menghentikan gerakan jarinya yang lincah menekan keypad,ia tahu Randi ingin membicarakan sesuatu. Clara pun memasukkan HP-nya ke saku,dan menatap Randi lekat-lekat. “Aku...aku diterima di sini,Clar. PMDK yang kuajukan itu.” Matanya sayu,menekuri lantai di bawahnya.
“Jadi,kamu nggak bisa nemenin aku di Bandung? Kita berpisah? Tapi,kamu nggak bermaksud untuk...”
“Nggak Clar! Aku tetep sayang kamu,walau kita berjauhan.”
“Apa kita bisa?”
“Kau ragu,Clara.”
“Aku cuma nggak ingin memendam harapan. Aku takut sakit!” bulir air mata mulai membasahi pipi halusnya. “Sudahlah,kita coba dulu,ya?” sahut Randi menenangkan,mengusap air mata Clara. Clara hanya mengangguk pelan.
***
Bandung
“Halo,Clara!” Evan melemparkan senyum andalannya. Clara yang tengah mengetik di notebook-nya menoleh,mencari sumber suara kemudian balas tersenyum. ”Lagi sibuk nih? Sorry kalo gue ganggu.” Lagi-lagi Evan mencari perhatian Clara. “Nggak kok,santai aja kali” sambut Clara ramah. Merasa mendapat umpan balik,Evan segera melanjutkan percakapan. “Boleh gue duduk?” kata Evan sambil melirik tas Clara yang diletakkan di satu-satunya kursi yang tersisa. “Silakan. Oh,maaf...maaf!” segera Clara menyingkirkan tasnya.
“Boleh kenalan kan?” tanya Evan basa-basi. “Lho,kan sudah kenal. Buktinya kamu tahu namaku.” Clara tetap memelototi layar notebook-nya. “Yah,maksud gue,kenal lebih deket gitu.” Evan agak dongkol dengan kepolosan Clara. “Oh. . .” sahut Clara pendek. “Lho,kok cuma oh? Takut dimarahi pacar kamu ya?” Evan terus memancing.
Tanpa sadar,Clara termakan pancingan Evan. Clara menoleh dan mengernyit,kemudian mengangkat bahu. “Jadi,loe udah punya pacar belum?” Evan semakin agresif. “Yaa...ada sih,” jawab Clara tanpa memandang Evan. “Lho,kok loe kaya gimana gitu?” Evan makin penasaran. “Dia..nggak kuliah di sini. Dia di Yogya.” Clara menunduk sedih,teringat Randi dan segala kenangan mereka.
***
Yogyakarta
Randi termenung menatap suasana di balik jendela. Hujan,sedang apa kamu Clar? Randi seperti kehilangan semangatnya. Bagai lilin tanpa nyala api,putih...dingin. Ah,andai saja aku punya HP. Tak akan begini jadinya. Aku rindu kamu,Clara. Mahasiswa andalan universitas itu pun ternyata bisa tak berdaya karena cinta.
“Lho,kenapa Ran? Sakit?” sapa Mbak Asih tiba-tiba. “Eh,ini Mbak...lagi nikmatin hujan.” Randi tersentak dari lamunannya. “Nikmatin hujan kok ngelamun gitu!Piye tho?” Mbak Asih heran. “Jujur saja,kamu sedang ada masalah kan?” kata Mbak Asih perhatian. “Hmmm,iya Mbak.” Randi tampak malas bercerita. “Ya udah,kenapa nggak cerita aja apa masalahnya?” Randi hanya garuk-garuk kepala. “Begini,Mbak. Sudah sebulan aku nggak hubungi Clara. Aku pingin tahu kabarnya. Tapi,sampai sekarang aku belum mampu beli HP.” Mbak Asih tampak mengerti. “Oh,cuman gitu tho ternyata. Kenapa ndak bilang?” Randi menatap Mbak Asih,ingin tahu. “Kebetulan,aku mau beli HP baru. Gimana kalau HP-ku yang lama kujual padamu?”
“Tapi,Mbak...berapa harganya?” Randi sedikit khawatir ia takkan mampu membayar. “Tenang aja,untuk kamu kujual Rp 650.000,00. Bagaimana? Bisa dicicil kok,nggak usah khawatir!” Mbak Asih seperti bisa membaca pikiran Randi. “Bener nih Mbak? Tapi dua bulan ya?” mata sayu Randi kembali berbinar. “Lha ya bener lah! Tapi aku tahan dulu sampai lunas ya? Aku belum bisa beli lagi sebelum kamu lunasi.” Senyum Mbak Asih. “Iya Mbak! Aku lunasi secepatnya!” Randi tersenyum gembira.
***
Bandung
“Hei,gimana kabar pacar loe itu,Ra?” tanya Evan sambil menyedot jus jambu. “Sudah dua bulan lebih,dia nggak calling aku. Yah,mungkin masih sibuk ngerjain tugas.” Clara mengangkat bahu,seolah tak peduli. Akhir-akhir ini sikap Clara memang begitu. Jika ditanya mengenai kabar Randi,selalu saja ia berubah tak peduli. Sikap yang bertolak belakang dengan hatinya. Hampir tiap malam,Clara selalu menangis. Tak bisa menahan rindu.
“Mungkin dia udah dapat pengganti loe.” Kata Evan santai. Mendengar perkataan Evan,mata Clara membeliak kaget. “Nggak kali,Van. Aku tahu dia sibuk ngerjain tugas,dia pasti mahasiswa teladan di sana.” sahut Clara menenangkan hatinya. “Yee,loe lugu banget deh! Sayang banget,cewek secantik loe...” Kembali Clara tersentak. “Maksud kamu apa sih,Van?” Clara mulai melihat gelagat aneh.
“Yaah...masa sih,cewek cantik kaya loe nungguin yang nggak pasti. Percuma,palingan dia di sana juga lagi nongkrong bareng cewek!” Evan terlihat cuek. Mendengar perkataan Evan,mata Clara menyipit. “Nggak!!” Clara berlari meninggalkan Evan di Cafe,tempat mereka bersantai.
***
Yogyakarta
Yogya,i’m coming!! Clara menghirup udara Yogya yang penuh polusi dengan semangat,ia pulang. Setelah kejadian di Cafe itu,Clara memutuskan untuk pulang. Lagipula,ia juga sudah lama tak menengok rumah. Clara berjalan gontai,menengok kanan-kiri. Siapa tahu,sopir utusan papanya sudah menunggu.
Keesokan paginya,Clara memutuskan untuk berjalan-jalan. Sebelum menemui Randi,Clara ingin menikmati kepulangannya. Rumah sepi,seperti biasa mama dan papanya sibuk mengurus perusahaan mereka. Adiknya,tentu saja sedang berkutat dengan bola basket. Sarapan pun cuma ala kadarnya,Clara tak berselera. Ia memutuskan untuk mencari sarapan di Bundaran UGM. Pagi-pagi seperti ini,di sana ramai dengan berbagai masakan khas kota kelahirannya. Clara segera memacu sedan putihnya.
***
Sepagi itu,Randi dan Mbak Asih sudah menikmati bubur ayam di Bundaran UGM. Tempat itu memang terkenal sebagai ajang wisata kuliner bagi masyarakat setempat. Menunya pun bermacam-macam,tak hanya masakan khas Jawa. Randi sengaja mentraktir Mbak Asih bubur ayam. Ia sedang senang,kini HP Mbak Asih sudah di tangannya,sebentar lagi ia akan tahu kabar Clara. Ya,Randi berhasil melunasi cicilannya. Karena itu,ia mentraktir Mbak Asih sebagai ucapan terima kasih.
Sedan putih Clara sudah terparkir di antara banyak kendaraan masyarakat Yogya yang sedang menikmati kuliner di Bundaran UGM. Clara bergegas keluar dari mobil,berkeliling melihat-lihat makanan yang menggugah selera. Namun,ketertarikannya pada berbagai macam makanan hilang dengan cepat. Matanya memandang seseorang berkaus biru,sedang menikmati bubur ayam. Seorang cewek duduk di dekatnya. Randi-kah itu? Dengan rasa penasaran Clara menghampiri tempat itu. Setelah sampai,Clara masih terpekur,menatap tanpa kedip sosok yang kini membelakanginya.
Clara tak perlu menunggu lama,sosok itu membalikkan badannya. Sekarang,mereka saling berhadapan. “Clara!Clara,kapan kamu pulang?” ternyata Randi,menyongsongnya dengan senyum sumringah. Clara pun membalas senyumnya,”Randi! Aku ke sini sengaja ngasih surprise buat kamu! Aku...” perhatian Clara beralih pada cewek di belakang Randi,yang bersamanya sejak tadi. Entah apa yang merasukinya,tiba-tiba Clara teringat perkataan Evan. palingan dia di sana juga lagi nongkrong bareng cewek...masa sih cewek kaya loe nungguin yang nggak pasti? Sayang banget...sayang banget...perkataan Evan terngiang-ngiang di telinganya. Raut muka Clara berubah seketika. “Ran...Ran...dia siapa? Kamu...kamu nggak...” Clara terisak. Randi bingung menghadapi perubahan Clara,”Nggak apa,Clar? Dia Mbak Asih,aku belum cerita ke kamu ya?” Clara menggeleng,isaknya semakin keras. “Ran,kenapa? Kamu nggak pernah kasih kabar,sekarang...apa?” Randi juga menggeleng. “Clar,dengerin aku dulu. Kamu pasti salah paham. Dia nggak seperti yang kamu pikir. Dia...”
“Dia...dia apa,Ran! Aku sengaja pulang untukmu,tapi kamu...ah,sudahlah!” Clara memotong perkataan Randi,ia bergegas menuju sedannya. “Clara...Clara!!” Randi mengejar,tapi Clara terlalu cepat. Clara segera tancap gas,jendela pengemudi terbuka. Sambil mengemudi,Clara membuang seluruh kenangan mereka. Clara mengemudi dengan kecepatan tinggi,ia tak dapat melihat dengan jelas. Matanya kabur oleh air mata. Sepuluh detik kemudian,Duaarrr!!!
Sedangkan di tempat yang ditinggalkan Clara,Randi berdiri terpaku. Wajahnya pucat. Randi memungut sesuatu yang terjatuh di kakinya,sesuatu yang terhembus angin bersama dengan hilangnya mobil Clara. Sesuatu itu,foto mereka berdua. Randi memandangi foto itu,lama. Dia kakak sepupuku,Clar. Mbak Asih kakak sepupuku...
Tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi pada Clara,Randi mengantongi foto mereka. Tanpa mengetahui,bahwa hanya itu yang tersisa dari kenangan manis mereka.
My room, 23.28 p.m. before midnight
09062008
Langganan:
Postingan (Atom)














